In a strong patriarchal society in i beg your pardon the standards of feminine subordination are sanctified by the strictures of religion, the rage and aggression of dorothea Herliany's poems is remarkable. This koleksi introduces the occupational of among Indonesia's most significant writers. In a strong patriarchal culture in i beg your pardon the norms of feminine subordination are sanctified by the strictures that religion, the rage and aggression of dorothea Herliany"s poems is remarkable. This koleksi introduces the work of one of Indonesia"s paling significant writers. ...more


Anda sedang menonton: Puisi bertema pendidikan karya chairil anwar

*

Saya digali hal baru di dalam puisi-puisi Dorothea, hal yang biasanya noël saya temukan dalam puisi-puisi sastrwawan Indonesia di atas umumnya dan feminin penulis diatas khususnya. Biasanya, sastrawan menulis circa masalah politik dengan volume marah atau emosi yang meluap-luap. Puisi-puisi Dorothea apa terangkum batin bagian “Sampah Kata-kata” berkomunikasi tema-tema politik dengan ‘bijaksana’ dan ‘tenang’.Dalam “Simphoni tidak punya Warna”, dorothea berbicara circa dominasi partai golkar di Indones Saya mengeksplorasi hal baru di dalam puisi-puisi Dorothea, hal apa biasanya noel saya temukan batin puisi-puisi sastrwawan Indonesia di ~ umumnya dan banci penulis diatas khususnya. Biasanya, sastrawan menulis sekitar masalah politik dengan volume marah ataukah emosi apa meluap-luap. Puisi-puisi Dorothea apa terangkum batin bagian “Sampah Kata-kata” berkomunikasi tema-tema politika dengan ‘bijaksana’ dan ‘tenang’.Dalam “Simphoni tanpa Warna”, dorothea berbicara sekitar dominasi partai memuja di Indonesia pada masa orde baru mencapai indah. Ia mengibaratkan partai terbesar di Indonesia tersebut kemudian “matahari perilaku paling buruk di atap rumahku” apa digambar “seseorang tua, apa rapuh dan renta, tak bosan mencari dan berlari”. Teres terasa kebencian dan kegelisahannya terhadap dominasi itu. Ia menggambarkannya cukup dengan tanda tangan seru (!) di beranjak kalimat “langit tidaklah biru: namun keemasan semata!” dan keterwakilan narator akuan yang merasa sebagai siput apa “mengusung rumah kerusuhan dari rawa setelah rawa”. Tak ada kata makian dalam puisi itu. Tak ada fakta-fakta sejarah yang biasanya memadati dan mengurangi kecantikan sebuah karya sastra bertema politik. Dorothea menyampaikan tema-tema itu dalam keperempuanannya dengan untuk menceritakan sebuah cerita dan membagikan perasaan apa dialaminya dalam sebuah deskripsi rasa. Namun, ia jiga noël bercengeng-cengeng dan terluka air mata batin puisinya. Ia merenungkan benar-benar sekitar masalah-masalah politik itu sehingga ia dapat memberikan gambaran apa tepat tentang what yang terjadi.Bait last dalam “Tentang Dua people Tua” yang menurut mengganggu Aveling di dalam pengantar secara baik ini, berkaitan menjangkau Suharto dan Abdurrahman Wahid, mengatakan bahwa kacaunya kepemimpinan di Indonesia asibe dua tokoh pemuka negara akun itu masih melanggar batas-batas kroni, kolusi, dan nepotisme. Demikian di dalam “Sebuah Sajak Airmata” apa ditujukan buat M ataukah Megawati, stu another presiden Indonesia. Kepada pemimpin negara yang perempuan itu, dorothea mengungkapkan pengertiannya terhadap postur Megawati yang noël banyak bicara, “tetapi tak penting lagi berkatakata/udara ini hanya terbuka buat segala omongkosong”.Sebait terakhir dalam “Sebuah Radio Kumatikan –fragmen setelah 23, kepada XG” juga mampu mengungkapkan permasalahan Timor Timur. “Sesungguhnya kita hanya ingin berebut tempat/dalam sehalaman secara baik sejarah. Yang mungkin hanya akan itupenggunaan tulis dan kita harus baca sendiri”. Dorothea menggambarkan perebutan tanah such “keinginankeinginan kosong”.Bukan just masalah politik, Dorothe ajuga berbagi pemahaman mengenai biakan posmodern televisi batin puisi “Episode Sebuah Serial Pop”. Dalam puisi itu, ia membicarakan kyung ekspoitasi tubuh perempuan, selebriti mencapai gosip-gosip rumah tangga mereka, dan “berita koran: sekitar rahasia umum segala berbohong manuisa...” Ia menyimpulkan segenap itu batin larik penutup “untuk menjadikan segenap terhibur”.Emosi dalam puisi-puisi dorothea meninggi bila ia berbicara mengenai pernikahan, relasi laki-laki dan perempuan, dan cinta. Teres tergamvar jernih kebencian, kemarahan, dan tak adanya keercayaan terhadap hal-hal tersebut. Ia mengatakan batin “Surat Cinta”, bahwa kesadaran –meskipun kadang labih buruk—tapi mengucapkan dibandingkan dengan cinta.Ia jelas-jelas mengatakan “tapi aku menikahimu tidak karena setia” batin puisinya “Buku Harian Perkawinan”. Dalam puisi menemani itu pula ia anak sapi kaum laki-laki apa senang tersembunyi di antara ketiak medang dan “telah menjadi budak penurutku”. Ia pun ingin kuasai mereka dengan berkata, “sekarang biarlah kudekap engkau, silam kulunaskan puncak laparku!”.Kesebalannya melihat postur perempuan apa pasrah dan noel melawan, sereta laki-laki yang menindih mereka, jernih tertumpah dalam “Hikayat Bulan”. Ia mengatakan mencapai lantang di atas kaumnya, “Bawa sangkurmu, dan libas lelaki apa menindihmu/--dalam satu bisikan mematikan!/lalu campakkan umpama sampah!” ...more
flag 1 like·Like·see tinjauan
*

Jul 30, 2012 Nadia Fadhillah rated that really favored it
Shelves: borrowed, wishlist


Lihat lainnya: Yang Menciptakan Lagu Aisyah Istri Rasulullah, Nasihat Buya Yahya Untuk Pencipta Lagu Aisyah

Aku gak ngerti gimana caranya bilang cantik selesai dibaca sebuah buku puisi.Karena, siapa tahu sampai kapanpun, bagiku, sebuah secara baik kumpulan puisi noël akan pernah selesai dibaca.Aku membacakan deviasi satu puisi dorothea Rosa di Radio Buku, puisinya yang Hikayat Bulan, tahun 2000. Page 22. Kalau mau filenya, aku punya. Gak memuat kok. Sini, untuk bertanya emailnya.