“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: ‘Kami beriman kepada apa sebahagian dan kalian kafir terhadap sebahagian (yang lain)’, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalur (tengah) di antara apa demikian (iman atau kafir), Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir akun itu siksaan apa menghinakan. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan Para Rasul-Nya dan noël membeda-bedakan seorangpun tengah mereka, kelak Allah become memberikan kepada mereka pahalanya. Dan adalah Allah Maha Pengampun another Maha Penyayang.” (An Nisaa’: 150-152).

Anda sedang menonton: Pertanyaan tentang iman kepada rasul


Iman kepada rasul-rasul Allah berarti secara pasti mengakui sebenarnya bahwa kepada setiap umat, Allah mengutus seorang rasul apa menyeru agar beribadah haya kepada Allah serta menolak segala bentuk penyembahan lain. Mereka adalah orang-orang terpilih apa jujur, baik, mulia, bertakwa, dipercaya, dan senantiasa dapatkan bimbingan dan hidayah Allah. Keberadaan mereka ditingkatkan dengan berbagai bukti dan ayat dari Rabb mereka. Seluruh konsep Allah mereka sampaikan kepada seluruh umat tanpa ada apa disembunyikan, diubah-ubah, ditambah, ataukah dikurangi walaupun hanya satu huruf. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“... Maka noel ada kewajiban atas Para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) mencapai terang.”(An Nahl: 35).
Mereka berada diatas sebenarnya yang jelas. Kepada Ibrahim ‘alaihissalam dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam Allah subhanahu wata’ala telah menyetujui kasih sayangNya. Kepada Musa ‘alaihissalam dialah telah berbicara langsung tanpa tabir, itu telah lifted Idris ketempat apa tinggi, dan dialah menjadikan ‘Isa seperti hamba dan rasulNya melalui ruh dan kalimat apa disampaikan kepada Maryam. Allah melebihkan sebagian rasul dari sebagian yang lain.
Pada dasarnya, setiap rasul itu, dari rasul apa pertama hingga yang terakhir, memiliki dakwah apa sepakat (sama), yaitu ketauhidan mencapai mengesakan Allah oleh berbagai macam ibadah, baik i’tiqad, perbuatan, dan ucapan; serta menjauhi seluruh penyembahan kepada selain Allah.
Kewajiban-kewajiban kepada ibadah yang lain, kemudian shalat fardhu, shaum dan lainnya, noel kepada segenap rasul diwajibkan. Begitu juga, ada hal tertentu apa dihalalkan karena sebagian rasul tetapi noel halal bagi rasul apa lain. Perbedaan-perbedaan tersebut merupakan ujian dari Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana firmanNya berikut ini:
“Yang menjadikan dies dan hidup, supaya dialah menguji kamu, siapa tengah kamu apa lebih baik amalnya ...”(Al Mulk: 2).
Dalil seperti itu secara rinci telah tercantum didalam beberapa ayat Al Qur’an, diantaranya firman Allah berikut ini:
“Dan sungguhnya kami telah mengutus Rasul di atas tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu’.”(An Nahl: 36).
“Dan Kami noel mengutus seorang Rasulpun dahulu kamu melainkan kita wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya noël ada tuan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian menjadi aku’.”(Al Anbiyaa’: 25).
“Dan Tanyakanlah kepada Rasul-rasul Kami yang telah kita utus silam kamu: ‘Adakah kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah yang Maha Pemurah?’.”(Az Zukhruf: 45).
“Dan Sesungguhnya kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah malalui kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada tuan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu noel bertakwa (kepada-Nya)?’.”(Al Mu’minuun: 23).
“Dan (kami telah mengutus) kepada kaum "Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali noël ada tuan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu noël bertakwa kepada-Nya?’.”(Al A’raaf: 65).
“Dan (kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka shaleh. Ia berkata: Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada tuhan bagimu selain-Nya ...”(Al A’raaf: 85).
“Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang noël ada tuhan selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.”(Thaaha: 98).
“Katakanlah (ya Muhammad): ’Sesungguhnya aku hanya seorang pemasok peringatan, dan sekali-kali tidak ada tuan (yang berhak disembah) selain Allah yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan’.”(Shaad: 65).
“Dan ingatlah selama Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: ‘Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap maafkan saya yang kamu sembah’.” (Az Zukhruf: 26).
“... Padahal Al masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sebenarnya orang apa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim menemani itu seorang penolongpun.”(Al Maaidah: 72).
Apa dalil apa menunjukkan selisih syariat diantara para rasul terhadap umatnya, terutama berkaitan menjangkau penghalalan dan pengharaman terhadap sesuatu?
“... Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan apa terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak tes kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat virtue ...” (Al Maaidah: 48).
“Kami para nabi adalah bersaudara dari satu ayah dengan medang berbeda dan agama kami satu.”
Maksud keagamaan satu adalah keagamaan tauhid apa dengannya Allah mengutus setiap rasul dan menghimpun setiap kitab yang diturunkanNya. Adapun, syari’at, perintah, dan larangannya berbeda-beda.
Sebagian besar saga rasul tercantum didalam Al Qur’an. Kisah-kisah tersebut dapat itupenggunaan jadikan ibrah dan teladan, sebagaimana telah difirmankan Allah:
“Dan (Kami telah mengutus) Rasul-rasul yang sungguh telah kalian kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan Rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan sekitar mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (An Nisaa’: 164).
Dengan begitu, siap sepatutnyalah kita mengimani seluruh nabi dan rasul secara rinci jika memang diharuskan dan secara umum jika memang diharuskan.
Mereka adalah Adam, Nuh, Idris, Huud, Shalih, Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, Luth, Syu’aib, Yunus, Musa, Harun, Ilyas, Zakaria, Yahya, Yasa’, Dzulkifli, Dawud, Sulaiman, Ayyub, (dan sejumlah cucu), ‘Isa, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Jumlah mereka ada five orag dan sebagai keistimewaan mereka, dalam Al Qur’an, Allah menyebutnya hingga dua ayat, yaitu:
“Dan (ingatlah) ketika kami mengambil Perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka Perjanjian yang teguh.”(Al Ahzaab: 7).
“Dia telah mensyari"atkan bagi kamu sekitar agama maafkan saya yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan what yang telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah kalian wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan tidak kamu berpecah belah tentangnya ...” (Asy Syuuraa: 13).
Rasul yang pertama kali diangkat adalah Nuh ‘alaihissalam usai terjadi ikhtilaf (pertentangan) menjangkau kaumnya, sebagaimana firmanNya ini:
“Sesungguhnya kalian telah memberikan epiphany kepadamu sebagaimana kami telah memberikan epiphany kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya ...”(An Nisaa’: 163).
“Sebelum mereka telah mendustakan (pula) kaum Nuh dan warga Rass dan Tsamud, Dan kaum Aad, kaum Fir"aun dan kaum Luth.”(Qaaf: 12-13).
Mengenai ketika tepatnya terjadi ikhtilaf tersebut, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:
“Adalah antara kaum Nuh dan Adam berselang times 10 abad, segenap mereka berada dalam syari’at apa benar, kemudian diantara kaum mereka terjadi ikhtilaf ...”
“Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah meningkatkan perselisihan), Maka Allah mengutus Para Nabi, kemudian pemberi kabar gembira dan pemasok peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab apa benar ...”(Al Baqarah: 213).
“Mereka semua berada pada petunjuk Allah, kemudian mereka berikhtilaf, maka Allah mengutus para nabi. Maka nabi pertama yang diutus Allah adalah Nuh ‘alaihissalam”.
“Manusia mulanya kemudian pengikutajaran Adam sehingga kemudian menyembah berhala, maka Allah mengutus kepada mereka Nuh ‘alaihissalam, dan itu itu merupakan rasul pertama yang diutus Allah pada bumi.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, I/250).
Penutup para nabi adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana ditegaskan di dalam firman Allah berikut:
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki tengah kamu, tetapi dialah adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”(Al Ahzaab: 40).
“Sungguh kelak menjadi terjadi setelahku para pendusta sebanyak tiga puluh orang. Semuanya mengaku such nabi, padahal aku adalah penutup para nabi dan tidak ada nabi lagi setelahku.” (HR Muslim).
“Perumpamaanku dan nabi-nabi apa sebelum aku adalah such seseorang yang membangun rumah da memperbaiki pembangunannya ternyata masih kurang satu rock bata sehingga tempatnya masih kosong. Maka diutuslah aku karena mengisi ruang angkasa bata apa kosong itu.” (HR Ahmad dari Sa’id Al Khudhri radhiyallahu ‘anhu).
“Sesungguhnya tesis dan kenabian telah terputus, tiada lainnya sesudah aku seorang rasul atau nabi.”
*


Unknownmengatakan...

Bismillah, assalamualaikum, saya mau bertanya, kenapa manusia noël boleh mengkultuskan rasul secara tidak wajarmenurut hawa nafsu? Jelaskan!

18 September 2017 07.17

Unknownmengatakan...

Lihat lainnya: Cara Mengaktifkan Indra Ke Enam, How To Develop Your Sixth Sense

Bismillah, assalamualaikum, saya dicari bertanya, mengapa manusia tidak boleh mengkultuskan rasul secara noël wajarmenurut hawa nafsu? Jelaskan!

18 September 2017 07.20
Mari berdiskusi...--------------------------------------------------------------------

Awali menjangkau bismillah sebelum memberi komentar...

--------------------------------------------------------------------


►  2017(4) ►  2016(51) ►  2015(54) ►  2014(47) ►  2013(103)▼ 2012(148) ►  2011(777)
*
users online