Maksud Shalat Tahajud Shalat malam (qiyamul lail) biasa disebut juga dengan shalat tahajud. Mayoritas pakar fiqih mengatakan bahwa shalat tahajud adalah shalat sunnah yang dilakukan di malam days secara umum usai bangun tidur.

Anda sedang menonton: Keutamaan shalat tahajud di bulan ramadhan

Keutamaan Shalat Tahajud

Pertama: Shalat tahajud adalah sifat orang bertakwa dan calon penghuni surga.

Allah Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa menyertainya berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, sambil resepsi segala pemberian Rabb mereka. Sebetulnya mereka silam itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi dahulu fajar.” (QS. Adz Dzariyat: 15-18).

Al Hasan Al Bashri mengatakan mengenai ayat ini, “Mereka bersengaja melaksanakan qiyamul lail (shalat tahajud). Di malam hari, mereka just tidur sedikit saja. Mereka menghidupkan malam hingga sahur (menjelang shubuh). Dan mereka pun kerumunan beristighfar di waktu sahur.”

Kedua: tidak sama antara orang apa shalat malam dan apa tidak.

Allah Ta’ala berfirman,

“(Apakah kamu hai people musyrik apa lebih beruntung) ataukah orang apa beribadat di waktu-waktu malam dengan kelelahan dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan hope rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah kemiripan orang-orang yang mengetahui menjangkau orang-orang yang noel mengetahui?” sebenarnya orang apa berakallah apa dapat resepsi pelajaran. ” (QS. Az Zumar: 9). Yang dimaksud qunut di dalam ayat ini bukan hanya berdiri, namun juga disertai mencapai khusu’. Deviasi satu maksud ayat ini, “Apakah sama antara orang apa berdiri untuk beribadah (di times malam) dengan setiap orang yang noël demikian?!” Jawabannya, tentu saja tidak sama.

Ketiga: Shalat tahajud adalah sebaik-baik shalat sunnah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sebaik-baik puasa usai puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah –Muharram-. Sebaik-baik shalat setelah shalat terdaftar adalah shalat malam.”

An iwagawa –rahimahullah– mengatakan, “Ini adalah dalil dari kesepakatan ulama bahwa shalat sunnah di malam aku lebih baik dari shalat sunnah di siang hari. Ini juga adalah dalil bagi ulama Syafi’iyah (yang satu madzhab dengan kami) di antaranya Abu Ishaq Al Maruzi dan yang sepaham dengannya, bahwa shalat malam lebih baik dari shalat sunnah rawatib. Sebagian ulama Syafi’iyah yang lain berpendapat bahwa shalat sunnah rawatib lebih afdhol (lebih utama) dari shalat malam untuk kemiripannya dengan shalat wajib. Namun pendapat pertama tetap lebih kokoh dan pantas dengan hadits. Wallahu a’lam.

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Waktu tahajud di malam hari adalah sebaik-baik times pelaksanaan shalat sunnah. Ketika itu hamba semakin berdekatan dengan Rabbnya. Waktu tersebut adalah saat dibukakannya pintu thiên dan terijabahinya (terkabulnya) do’a. Saat menemani itu adalah waktu untuk mengemukakan berbagai macam hajat kepada Allah.”

‘Amr bin Al ‘Ash mengatakan, “Satu raka’at shalat sunnah di malam aku lebih baik dari 10 raka’at shalat sunnah di siang hari.” Dikeluarkan melalui Ibnu Abi Dunya.

Ibnu Rajab mengatakan, “Di sini ‘Amr bin Al ‘Ash membedakan antara shalat malam dan shalat di siang hari. Shalat malam lebih mudah dilakukan sembunyi-sembunyi dan lebih sederhana mengantarkan di ~ keikhlasan.” Inilah sebabnya para ulama lebih bagus shalat malam buat amalannya apa jarang diketahui orang lain.

Keempat: Shalat tahajud adalah kebiasaan people sholih.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Hendaklah kalian melaksanakan qiyamul lail (shalat malam) buat shalat malam adalah kebiasaan orang sholih sebelum kalian dan membuat kita lebih dekat diatas Allah. Shalat malam dapat menghapuskan patahan dan dosa. ”

Kelima: Sebaik-baik people adalah yang melaksanakan shalat tahajud.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan mengenai ‘Abdullah bin ‘Umar,

« نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللَّهِ ØŒ لَوْ كَانَ يُصَلِّى بِاللَّيْلِ » . قَالَ سَالِمٌ فَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ لاَ يَنَامُ مِنَ اللَّيْلِ إِلاَّ قَلِيلاً .

“Sebaik-baik people adalah ‘Abdullah (maksudnya Ibnu ‘Umar) seandainya ia mau melaksanakan shalat malam.” pembunuhan mengatakan, “Setelah dikatakan kemudian ini, Abdullah bin ‘Umar tidak pernah another tidur di times malam kecuali sedikit.”

Waktu Shalat Tahajud

Shalat tahajud boleh dikerjakan di awal, pertengahan atau akhir malam. Ini segenap pernah dilakukan melalui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Anas bin Malik -pembantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengatakan,

مَا كُنَّا نَشَاءُ أَنْ نَرَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي اللَّيْلِ مُصَلِّيًا إِلَّا رَأَيْنَاهُ وَلَا نَشَاءُ أَنْ نَرَاهُ نَائِمًا إِلَّا رَأَيْنَاهُ

“Tidaklah kita bangun agar ingin pemandangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam aku mengerjakan shalat kecuali pasti kalian melihatnya. Dan tidaklah kalian bangun lanskapnya beliau dalam keadaan tidur kecuali pasti kami melihatnya pula.”

Ibnu Hajar menjelaskan,

“Sesungguhnya waktu shalat malam dan tidur apa dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbeda-beda setiap malamnya. Beliau noel menetapkan waktu tertentu buat shalat. Namun beliau mengerjakannya sesuai keadaan yang mudah bagi beliau.”

Waktu Utama untuk Shalat Tahajud

Waktu utama karena shalat malam adalah di di atas malam. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Rabb kami -Tabaroka wa Ta’ala- akan down setiap malamnya ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lalu Allah berfirman, “Siapa yang memanjatkan do’a pada-Ku, maka Aku become mengabulkannya. Siapa apa memohon kepada-Ku, maka Aku menjadi memberinya. Siapa yang meminta pengampunan pada-Ku, Aku menjadi memberikan ampunan untuknya”.”

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya puasa yang most dicintai di sisi Allah adalah puasa Daud15 dan shalat yang dicintai Allah adalah shalatnya Nabi Daud ‘alaihis salam. Beliau biasa tidur di separuh malam dan bangun tidur di ~ sepertiga malam terakhir. Lalu beliau tidur bagian belakang pada seperenam malam terakhir. Nabi Daud biasa sehari berpuasa dan keesokan harinya noël berpuasa.”

‘Aisyah pernah ditanyakan mengenai shalat malam apa dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Aisyah menjawab,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa tidur di mulai malam, lalu beliau terjaga di beranjak malam. Kemudian beliau mandatnya shalat, lalu beliau bagian belakang lagi setelah tempat tidurnya. Jika terdengar suara muadzin, hanya beliau bangun kembali. Jika memiliki hajat, beliau mandi. Dan jika tidak, beliau berwudhu lalu segera keluar (ke masjid).”

Shalat Tahajud Ketika kapak Sulit

Bermunajatlah pada Allah di beranjak malam ketika terms begitu sulit.

‘Ali bin Abi Tholib pernah menceritakan,

“Kami pernah memperhatikan di ~ malam Badar dan kapan itu segenap orang diatas terlelap tidur kecuali Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mandat shalat di bawah pohon. Beliau memanjatkan do’a di atas Allah hingga waktu Shubuh. Dan noël ada middle kami noël ada apa mahir menunggang kuda selain Al Miqdad bin Al Aswad.” batin riwayat go disebutkan,

يُصَلِّى وَيَبْكِى حَتَّى أَصْبَحَ

“Beliau mandatnya shalat sambil menangis hingga waktu shubuh.”

Jumlah Raka’at Shalat Tahajud apa Dianjurkan (Disunnahkan)

Jumlah raka’at shalat tahajud yang dianjurkan adalah noel lebih dari 11 ataukah 13 raka’at. Dan inilah apa menjadi peluang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

‘Aisyah mengatakan,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah shalat malam di moon Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari 11 raka’at. Beliau melakukan shalat empat raka’at, maka jangan memintanya mengenai denda dan panjangnya. Kemudian beliau melakukan shalat empat raka’at lagi dan jangan tanyakan mengenai bagus dan panjangnya. Then beliau melakukan shalat tiga raka’at.”

Ibnu ‘Abbas mengatakan,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat malam 13 raka’at. ”

Zaid bin Kholid Al Juhani mengatakan,

“Aku pernah memperhatikan shalat malam yang dilakukan melalui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun mandat 2 raka’at ringan. Then setelah akun itu beliau laksanakan 2 raka’at yang panjang-panjang. Kemudian beliau lakukan shalat 2 raka’at apa lebih ringan dari sebelumnya. Then beliau lakukan shalat 2 raka’at lagi yang lebih ringan dari sebelumnya. Beliau pun lakukan shalat 2 raka’at yang lebih ringan dari sebelumnya. Kemudian beliau lakukan shalat 2 raka’at lagi yang lebih ringan dari sebelumnya. Lalu terakhir beliau berwitir sehingga jadilah beliau laksanakan shalat malam kapan itu 13 raka’at.” Ini berarti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan witir menjangkau 1 raka’at.

Dari sini menunjukkan bahwa disunnahkan dahulu shalat malam, dibuka menjangkau 2 raka’at ringan terlebih dahulu. ‘Aisyah mengatakan,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika hendak mandat shalat malam, beliau buka terbuka terlebih silam dengan mandat shalat dua rak’at yang ringan.”

Bolehkah menambahkan Raka’at Shalat Malam Lebih Dari 11 Raka’at?

Al Qodhi ‘Iyadh mengatakan,

“Tidak ada khilaf bahwa noël ada batasan jumlah raka’at dalam shalat malam, noel mengapa ditambah atau dikurang. Alasannya, shalat malam adalah bagian dari ketaatan yang apabila seseorang menambah jumlah raka’atnya maka bertambah pula pahalanya. Jika dilakukan sebagai ini, maka itu hanya menyelisihi perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyelisihi pilihan yang beliau pilih untuk dirinya sendiri.”

Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan,

“Tidak ada khilaf middle kaum muslim bahwa shalat malam tidak ada batasan raka’atnya. Shalat malam adalah shalat nafilah (shalat sunnah) dan tersirat amalan kebaikan. Seseorang boleh semaunya mengerjakan menjangkau jumlah raka’at yang sedikit ataukah pun banyak.”

Adapun dalil apa menunjukkan bolehnya menambah lebih dari 11 raka’at, di antaranya: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai shalat malam, beliau menjawab,

“Shalat malam menemani itu dua raka’at-dua raka’at. Jika deviasi seorang middle kalian undang masuk waktu shubuh, maka kerjakanlah satu raka’at. Menjangkau itu berarti kita menutup shalat tadi menjangkau witir.” Padahal ini batin konteks pertanyaan. Jika shalat malam menemani itu ada batasannya, tentu saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini adalah menjelaskannya.

Lalu bagaimana dengan hadist ‘Aisyah,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam noël pernah menambah shalat malam di moon Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari 11 raka’at. ”

Jawabannya adalah such berikut:

Jika ingin diikuti sunnah (ajaran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mestinya mencocoki beliau batin jumlah raka’at shalat juga dengan tata cara shalatnya.

Lihat lainnya: 14+ Cara Menghasilkan Uang Lewat Youtube, Bisa Dicoba Nih!, Beragam Cara Menghasilkan Uang Dari Youtube

Sedangkan shalat yang paling bagus, kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah,

“Shalat yang most baik adalah yang most lama berdirinya.”

Namun sekarang yang does 11 raka’at demi meniru Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak does lama seperti beliau. Padahal jika untuk kita ingin mencontoh jumlah raka’at yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seharusnya juga lama shalatnya pun sama. sekarang pertanyaannya, manakah yang lebih utama does shalat malam 11 raka’at di dalam waktu 1 jam ataukah shalat malam 23 raka’at apa dilakukan di dalam waktu dua pukul atau tiga jam? apa satu mendekati perbuatan Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam dari segi jumlah raka’at. Namun apa satu mendekati ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari segi lamanya. Yang di antara detik cara ini yang lebih baik?

Jawabannya, tentu apa kedua yaitu apa shalatnya lebih lama mencapai raka’at apa lebih banyak. Alasannya, untuk pujian Allah terhadap orang apa waktu malamnya digunakan untuk shalat malam dan sedikit tidurnya. Allah Ta’ala berfirman,

كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ

“Di world mereka sedikit begitu banyak, begitu banyak tidur diwaktu malam.” (QS. Adz Dzariyat: 17)

وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا

“Dan di atas sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya diatas bagian yang panjang dimalam hari.” (QS. Al Insan: 26)

Oleh untuk itu, para ulama ada yang does shalat malam hanya dengan 11 raka’at namun dengan raka’at yang panjang. Ada pula apa melakukannya dengan 20 raka’at atau 36 raka’at. Ada pula yang kurang ataukah lebih dari itu. Mereka di sini bukan bermaksud menyelisihi ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun yang mereka inginkan adalah mengikuti maksud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu mencapai mengerjakan shalat malam dengan thulul qunut (berdiri apa lama). Sampai-sampai sebagian ulama pribadi perkataan yang bagus, “Barangsiapa apa ingin memperlama kedudukan dan membaca surat di dalam shalat malam, maka ia boleh mengerjakannya dengan raka’at yang sedikit. Namun jika ia ingin tidak terlalu kedudukan dan baca secara terpisah surat, hendaklah ia menambah raka’atnya.”

Mengapa ulama ini bisa mengatakan demikian? untuk yang enim patokan adalah lama kedudukan di hadapan Allah selama shalat malam. -Demikianlah faedah yang kami mendulang dari penjelasan Syaikh Musthofa Al ‘Adawi batin At Tarsyid–

Qodho’ bagi apa Luput dari Shalat Tahajud buat Udzur

Bagi yang luput dari shalat tahajud untuk udzur kemudian ketiduran atau sakit, maka ia boleh mengqodho’nya di siang hari sebelum Zhuhur.

‘Aisyah mengatakan,

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika beliau untuk melarikan diri dari shalat malam untuk tidur atau udzur lainnya, beliau mengqodho’nya di siang days dengan bekerja pada 12 raka’at.” ‘Umar bin Khottob mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang tertidur dari penjagaannya atau dari apa lainnya, lalu ia membaca apa yang biasa ia berpengalaman di shalat malam antara shalat shubuh dan shalat zhuhur, maka ia dicatat seperti membacanya di malam hari.”