*

Oleh : Abdul Rachman, M.H.I (Penghulu KUA Kec. Lubuklinggau utara II kota Lubuklinggau)

Terjadi diskusi kecil-kecilan selepas makan siang di kantor, antara saya dan seorang pegawai apa kebetulan dialah masih kuliah di deviasi satu Perguruan Tinggi keagamaan Islam di kota Lubuklinggau. Dia menanyakan perihal bagaimana hukumnya menikahi seorang wanita apa hamil duluan.

Anda sedang menonton: Hukum menikahi wanita hamil menurut islam

Selama ini crowd terjadi remaja apa hamil keluar nikah kemudian langsung dinikahkan hanya buat menutupi aibnya. Dan yang mengenaskan lagi, laki-laki apa dinikahinya bukanlah orang apa menghamilinya. Ujar dirinya mencapai tatapan mata yang serius.

Saya pun cobalah menjawabnya, dan tentunya jawaban yang saya tuturkan ini berasal dari pemfitnahan literatur yang pernah saya baca. Memang pergaulan di kalangan pubertas dan anak anak laki-laki sekarang siap sangat mengkhawatirkan. Noel sedikit di antara mereka yang terjebak batin pergaulan bebas. Noël heran jika kerumunan remaja apa masih usia belia telah nikah disebabkan hamil duluan hasil dari perbuatan zina.

Ada dua hal apa sepertinya harus dijawab, yaitu koknya status tindakan seorang laki-laki menikahi wanita yang sedang involves anak dari setiap orang lain dan hukum wanita hamil apa dinikahi melalui laki-laki yang menghamilinya di luar nikah.

Dalam anck persoalan detik status hukum tersebut ini, saya kutipan pendapat Ahmad Sarwat dari di dalam laman website Rumah Fiqih. Menurutnya terdapat pemfitnahan pendapat, di antaranya:

Pertama Pendapat Imam Abu Hanifah yang menjelaskan bahwa bila yang menikahi wanita hamil itu adalah laki-laki yang menghamilinya, hukum boleh. Sedangkan kalau yang menikahinya itu bukan laki-laki yang menghamilinya, maka laki-laki itu noël boleh menggaulinya hingga melahirkan.

Kedua Pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hanbal yang mengatakan laki-laki yang noël menghamili noel boleh menikahi wanita apa hamil, kecuali usai wanita hamil itu melahirkan dan telah habis masa 'iddahnya.

Imam Ahmad menambahkan satu syarat lagi, yaitu wanita tersebut harus sudah bertobat dari dosa zinanya. Jika belum bertobat dari dosa zina, maka dialah masih belum boleh menikah dengan siapa pun. Demikian disebutkan di di dalam kitab Al-Majmu' Syarah Al-Muhazzab karya Al-Imam An-Nawawi, jus XVI page 253.

Ketiga Pendapat Imam Asy-Syafi'i yang menerangkan bahwa baik laki-laki apa menghamili ataupun yang noël menghamili, dibolehkan menikahinya. Sebagaimana tercantum di dalam kitab Al-Muhazzab karya Abu Ishaq Asy-Syairazi juz II page 43.

Adapun dalam Kompilasi bertindak Islam (KHI) menjangkau instruksi Presiden RI numeral 1 five 1991 Tanggal 10 Juni 1991, yang pelaksanaannya diatur benar dengan Keputusan menteri kesehatan Agama RI nomor 154 five 1991 telah disebutkan hal-hal berikut :

Seorang wanita hamil di luar nikah, dapat dikawinkan dengan laki-laki apa menghamilinya.Perkawinan dengan feminin hamil yang disebut pada ayat (1) dapat dilangsungkan tidak punya menunggu lebih duhulu kelahiran anaknya.Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat perempuan hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak apa dikandung lahir.

Semua pendapat apa menghalalkan wanita hamil di luar menikah dikawinkan mencapai laki-laki apa menghamilinya, berangkat dari mayoritas nash berikut, Dari Aisyah ra berkata, Rasulullah witnessed pernah ditanya circa seseorang yang berzina mencapai seorang feminin dan berniat untuk menikahinya, lalu beliau bersabda: “Awalnya perbuatan kotor dan akhirnya nikah. Sesuatu apa haram noel bisa mengharamkan apa halal”. (HR Tabarany dan Daruquthuny).

Juga dengan hadist berikut, Seseorang tanya kepada Rasulullah SAW, isteriku ini seorang yang suka berzina. Beliau menjawab: “Ceraikan dia.” “Tapi aku undang memberatkan diriku”. “Kalau begitu mut`ahilah dia”. (HR Abu Daud dan An-Nasa`i)

Adapun pendapat yang mengharamkan seorang laki-laki menikahi seorang wanita yang sedang involves anak dari setiap orang lain. Karena hal itu akan mengakibatkan rancunya nasab anak tersebut.

Dalilnya adalah pemfitnahan nash berikut, Nabi witnessed bersabda: "Janganlah disetubuhi (dikawini) seorang wanita hamil (karena zina) hingga melahirkan." (HR Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Hakim). Juga dalam riwayat lain, Nabi saw bersabda: "Tidak halal bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah dan days akhir untuk menyiramkan airnya pada tanaman orang lain." (HR Abu Daud dan Tirmizy).

Jadi kesimpulannya, jika seorang laki-laki menikahi wanita apa sedang mengandung anak dari people lain, hukumnya haram (menurut Imam Malik dan Imam Ahmad). Adapun bila wanita apa hamil menemani itu dinikahi oleh laki-laki apa menghamilinya keluar nikah, maka hukum boleh. Sedangkan jika mengacu di atas Kompilasi hukum Islam, seorang wanita hamil di luar nikah, dapat dikawinkan menjangkau laki-laki yang menghamilinya.

Lihat lainnya: Bagaimana Kondisi Budaya Politik Di Indonesia Uraikan Dan Berikan Contoh

Begitulah kira-kira jawaban apa saya ketahui. Dan tentunya terlalu banyak lagi berdasarkan dari beberapa literatur yang saya baca, mudah-mudahan saja dapat dipahami. Ungkap saya kepada si dia. Finite diapun mengangguk tanda tangan mengerti. Wallahu a’lam bishshowab.