Mendoakan keburukan buat orang lain akun itu dilarang batin agama, namun bila untuk suatu sebab misalnya karena dizalimi memintalah kepada Allah apa membalaskannya, just Allahlah yang berhak memberikan balasannya. Gambar ilustrasi/ist
Dalam Islam, doa memiliki kedudukan yang tinggi. Ia merupakan bagian apa tak terpisahkan dari ibadah. Tersirat nikmat Allah kepada hamba-Nya, Allah memberdayakan dan menganjurkan karena berdoa memohon kepada-Nya. Bahkan, lebih dari itu, Allah menjanjikan pahala serta kebahagiaan di world dan di akhirat. Diiringi pula dengan janji akan dipenuhinya segala hajat apa dipintakan. Hipotesa memenuhi syarat terkabulnya doa, seperti ikhlas, khusyuk, bar-tawassul dengan asma’ul husna, di times mustajab dan menghilangkan segenap yang menjadi penghalang terkabulnya doa.

Anda sedang menonton: Doa untuk orang yang berbuat jahat kepada kita

(Baca juga : Inilah hukum Menamai Anak menjangkau Nama-nama Malaikat )Lantas di mana bila mendoakan kejahatan karena orang lain yang menzalimi kita? Bolehkah dilakukan? bagaimana itu? pula syariat memandangnya?Pada dasarnya Allah suspended kita untuk mendoakan keburukan karena orang lain, terlebih kepada sesama muslim. Tapi, spesialisasi terhadap orang-orang yang dizalimi Allah membolehkannya. Kalau dialah mendoakan keburukan buat orang yang menzaliminya itu, Allah akan mengabulkan doanya.Dizalimi dan dianiaya, pasti setiap orang noël suka. Saat seseorang terzalimi, pasti ia akan berbuat what saja agar terhindar dari kezaliman itu. Jika mampu, ia become menghentikan kezaliman atas dirinya menjangkau tenaga atau lisannya.(Baca juga : memotong Kuku dan haar Saat Haid, Bolehkah Dilakukan? )Namun kapan tak mampu karena membalasnya, ataukah di sisi go setiap muslim terbentur mencapai aturan noel boleh dendam, Allah membukakan pintu lain karena membalas perbuatan zalim itu dengan bolehnya mendoakan kejahatan untuknya.Allah Ta"ala berfirman,لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) mencapai terus terang kecuali malalui orang apa dianiaya. Allah adalah Maha mendengarkan lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa: 148)(Baca tambahan : Sikap-sikap Manusia apa Membuat Harta menjadi Tercela )Namun, batin setiap hal yang umum tentu saja ada perkara yang khusus, selalu ada kasus pengecualian, begitu juga dengan masalah doa. Dimana kemudian ulama sepakat bahwa mendoakan kejahatan atas orang apa mendzalimi menemani itu dibolehkan, terlebih jika kezalimanya menyangkut masalah kepentingan orang kerumunan dan urusan agama. Dinukil dari laman konsultasiislam, ada mayoritas perkara khusus apa menyangkut kezaliman tersebut, yakni :1. Kezaliman yang bersifat pribadiJika ada orang apa dizalimi hak-haknya melalui pihak lain, itu boleh mengadu kepada Allah dan mendoakan laknat, kecelakaan atau hukuman kepada apa mendzaliminya. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’alaلا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنْ الْقَوْلِ إِلاَّ مَنْ ظُلِمَ”Allah noël menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) menjangkau terus terang, kecuali malalui orang apa dianiaya.” (QS one Nisaa`: 148).

Lihat lainnya: Chord Gitar & Lirik Lagu Maafkan Aku Membuatmu Tak Suka, Lirik Lagu Dara Ayu

(Baca juga : Klaster Perkantoran-Keluarga Naik, Depok back ke Zona Merah )Imam Ibnu Katsir meriwayatkan tafsiran Ibnu abas terhadap ayat tersebut yang berkata : ”Allah noël menyukai seseorang yang mendoakan keburukan kepada people lain, kecuali jika dialah dizalimi. Untuk sesungguhnya Allah telah memberikan keringanan kepadanya untuk mendoakan ragum bagi orang yang telah menzaliminya. Yang demikian akun itu berdasarkan firman-Nya: “Kecuali melalui orang apa dizalimi.” Tapi jika dia bersabar, itu lebih baik baginya.” (Tafsir Ibnu Katsir)Hukum mendoakan keburukan jenis ini asal hukumnya boleh atau makruh, bisa berubah haram bila berlebihan. Semisal gara-gara cuma keinjak jempol kakinya terus berdoa : “Ya Allah untuk dia yang menginjak jempolku menyertainya lumpuh kakinya, puntung tangannya, mandul tujuh turunan !”
*

اَلۡمُنٰفِقُوۡنَ وَالۡمُنٰفِقٰتُ بَعۡضُهُمۡ مِّنۡۢ بَعۡضٍ‌ۘ يَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمُنۡكَرِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ الۡمَعۡرُوۡفِ وَيَقۡبِضُوۡنَ اَيۡدِيَهُمۡ‌ؕ نَسُوا اللّٰهَ فَنَسِيَهُمۡ‌ؕ اِنَّ الۡمُنٰفِقِيۡنَ هُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ
Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, satu dengan yang lain adalah sama, mereka menyuruh berbuat mungkar dan prevalensi perbuatan apa makruf dan mereka juga kikir. Mereka telah melupakan Allah, maka Allah melupakan mereka. Sebetulnya orang-orang munafik itulah orang-orang apa fasik.(QS. At-Taubah:67)
*

Artikel Terkait
*

BACA JUGA
Hadits that The Day
Dari Zaid bin Khalid Al Juhaini bahwasanya dialah berkata, "Rasulullah shallallahu "alaihi wasallam memimpin kami shalat Shubuh di Hudaibiyyah di atas suatu malam sehabis turun hujan. Usai selesai Beliau menghadapkan wajahnya kepada orang kawanan lalu bersabda: "Tahukah kalian maafkan saya yang cantik difirmankan melalui Rabb kalian?" Orang-orang menjawab, "Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau bersabda: "Allah berfirman: Di pagi ini ada hamba-hamba Ku yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir, orang apa berkata bahwa Hujan down kepada kita buat karunia Allah subhanahu wa ta"ala dan rahmat-Nya, maka itu adalah apa beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang-bintang. Adapun yang berkata bahwa Hujan dibawah disebabkan bintang ini atau itu, maka dia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang."(HR. Bukhari No. 801)